SUJUD BERSAMA BELIBIS

Rabu, 10 Juni 2015 Mata Langit
SUJUD BERSAMA BELIBIS
© JavaInBlue.com

JavaInBlue.com - Kala bingkai kabut memajemukkan hempasan malam
Saat keyakinan memasung geliat dingin Ranu Kumbolo
Kehidupan hanyalah sepenggal lukisan dalam perjamuan suci
Lantunan mantra untuk memahat desau angin
Meleburkan yang bersujud dengan yang disujudi
Yang merindukan dengan yang dirindukan

Kurenda sabda bukit batu
Untuk meruntuhkan altar pemujaan keakuanmu
Kupuisikan keheninganmu
Di tengah gemuruh kenyataan yang membiru
Kusunting mimpimu
Tentang sebuah nama yang akan dihapuskan
Tentang selaksa sejarah yang akan dihanguskan
Dan segurat bayangan yang berhenti menyulam langkah

Saat ini engkau bukanlah sedang membaca puisi
Tapi engkaulah puisi ini
Engkau bukan pula sedang menyanyi
Tapi engkaulah lagu itu
Saat inipun engkau tidak sedang menari
Karena engkaulah tarian itu

Waktu sudah meradang menunggu keraguanmu
Dari ujung langit suara takdir mulai serak meneriakimu
Untuk segera menggerus gerak masa

Kita bukanlah kenari atau perkutut
Yang merangkai pesona dari dalam sangkar
Kita adalah Belibisi liar
Yang dilahirkan untuk menaklukkan kebisuan ufuk
Menerjang bidai prahara
Dan meregangkan dawai cahaya

Wahai angin gunung !!!
Kutunggu senyummu di angkasa
Kunanti dinginmu disamping Arasy
Bersama kita seberangi rona rembulan

MATA LANGIT
29 Juni 2006

Sujud Bersama Belibis adalah sebuah lukisan tentang birunya langit yang sebenarnya tak pernah ada. Seperti innalillahi wa innailaihi rajiun, semua berasal dari Allah dan harus kembali kepada Allah. Lantas untuk apa kita hidup jika pada akhirnya tetap akan dimatikan? Apakah hanya sekedar supaya surga dan neraka ada isinya? Atau supaya dunia ada suaranya? Apakah sesederhana itu?

Lahir, hidup, sakit dan mati....?

Semesta adalah sebuah kanvas, dimana Sang Maha Agung mengguratkan warna warni dalam lukisan-Nya yang disebut kehidupan.

Ada warna hitam yang biasa diartikan dengan kegelapan atau dosa, ada warna putih yang sering diartikan dengan kesucian dan kebaikan, ada biru, merah, hijau dan banyak warna lain yang tergurat di dalamnya, dan semua itu membuat lukisan maha karya ini menjadi begitu agung. Apakah aku hitam? Apakah engkau putih? Terus dimana salahnya? Apakah hitamku tanpa restu dan ijin-Nya? Dan apakah putihmu juga bukan kehendak-Nya?

Hitamku, putihmu, birunya dan apalah itu namanya, hanyalah lahir dari sebuah kehendak suci untuk menyelesaikan lukisan agung ini.

Saudaraku... marilah jalani peran kita dalam lukisan ini dengan baik tanpa harus menghakimi. Seorang maling, menjadi maling karena diijinkan menjadi maling, buktinya dia sukses melaksanakan hajatnya untuk mencuri. Kalau itu tidak diijinkan, pasti sang malingpun tak berfikir untuk menjadi maling. Mungkin sang maling akan menuai buah perbuatannya dengan penderitaan.

Tetapi... kenapa kamu kemalingan? Apakah tidak ada hukum yang sedang bekerja atas dirimu, sehingga kamu menuai penderitaan akan kehilangan?

Slameeeeet aku hanya bagian dari lukisan agung ini, jadi tidak perlu repot mengatur dan memikirkan semua ini.

Mari kita nikmati saja kehidupan kita yang sekarang, kita jadikan hidup kita yang sepenggal ini sebagai persembahan kepada Sang Maha Hidup. Hidup dalam cinta, dalam damai dan dalam kemerdekaan jiwa.

Biarlah yang sepenggal ini bisa memberi arti, seperti belibis liar di Ranu Kumbolo yang bersujud kehadirat-Nya, dengan hadir di depan kita dan menjamu kita, dan menjadikan Ranu Kumbolo begitu sempurna. Sebagai persembahan agung sang belibis, kepada sang jiwa agung yang bersemayam di dalam kuil tubuh kita ini.

Kumpulan Berita

#Renungan

Komentar Anda

Berita Terkait

Lihat semua berita terkait...

Berita Terbaru

Trending

Most Shares